Rabu, 23 Januari 2013

Anak Mengompol !!??


DEFINISI
Sekitar 30% anak-anak masih mengompol pada usia 4 tahun, 10% pada usia 6 tahun, 3% pada usia 12 tahun, dan 1% pada usia 18 tahun. Mengompol lebih umum dilakukan pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan dan kelihatannya menurun dalam keluarga.

Mengompol biasanya terjadi karena syaraf menyuplai kantung kemih lambat matangnya, sehingga si anak tidak berhasil terbangun ketika kantung kemih penuh dan butuh dikosongkan. Mengompol dapat disebut juga gangguan tidur seperti tidur berjalan dan terror malam. Gangguan fisik-umumnya infeksi saluran kemih-hanya ditemukan 1 sampai 2% anak yang ngompol. Gangguan lain, seperti diabetes, jarang menyebabkan mengompol. Mengompol kadangkala disebabkan oleh masalah psikologi, bukan hanya pada anak atau pada anggota keluarga lainnya, dan kadangkala merupakan bagian dari gejala yang diduga penganiayaan seksualitas.

Kadangkala mengompolnya berhenti kemudian mulai lagi. Kambuhnya mengompol biasanya diikuti dengan keadaan atau kondisi tekanan psikologis, tetapi salah satu penyebab fisik, khususnya infeksi saluran kemih dapat menjadi penyebabnya.


PENGOBATAN
Orang-tua dan anak perlu tahu mengompol hal yang biasa, dimana hal itu bisa diperbaiki, dan bahwa tak seorang pun sebaiknya merasa bersalah karenanya. Seorang anak yang lebih tua yang mengompol bisa mengambil tanggung jawab dengan membatasi minum setelah makan malam (khusunya minuman yang mengandung caffeine), kencing sebelum pergi tidur, mencatat malam basah dan kering, dan berganti pakaian dan menidurkan waktu mengompol. Orang tua mungkin pilih untuk memberi anak hadiah yang pantas (penguatan positif) selama malam tidak mengompol.

Bagi anak denga usia kurang dari 6 tahun, orang tua bisa menghindari memberikan anak minum 2 sampai 3 jam sebelum waktu tidur dan menganjurkan anak kencing sebelum tidur. Pada kebanyakan anak dengan usia ini, waktu dan pematangan fisik memecahkan masalah.

Bagi anak dengan usia 6 sampai 7 tahun, suatu bentuk pengobatan sering ditunjukkan. Alarm mengompol, yang membangunkan seorang anak kalau sedikit air kencing diketahui, adalah perlakuan yang paling efektif. Mereka mengobati mengompol sekitar 70% dari anak, dan hanya sekitar 10 hingga 15% anak mulai mengompol lagi sesudah alarm dihentikan. Alarm relatif murah dan mudah dijalankan. Pada minggu pertama setelah, anak bangun hanya sesudah sepenuhnya kencing. Pada minggu berikutnya, anak bangun sesudah kencing sedikit dan mungkin mengompol lebih jarang. Akhirnya, keperluan untuk kencing membangunkan anak sebelum mengompol. Kebanyakan orang tua mengetahui bahwa alarm bisa dihilangkan setelah periode tidak mengompol selama 3 minggu.

Jika mengompol berlanjut pada anak yang lebih tua setelah alarm dan pemberian reward diuji, dokter mungkin meresepkan imipramine. Imipramine adalah obat antidepresi tetapi dipakai untuk mengatasi mengompol karena mengendurkan kandung kemih dan mengetatkan sphincter sehingga menghalangi air kencing mengalir. Kapan imipramine bekerja, biasanya bekerja pada minggu pertama pengobatan. Respon cepat ini adalah satu-satunya keuntungan nyata obat ini, khususnya jika orang-tua dan anak merasa mereka perlu melenyapkan masalah dengan cepat. Sesudah 1 bulan tidak mengompol, dosis obat dikurangi selama 2 sampai 4 minggu, kemudian berhenti. Tetapi, sekitar 75% dari anak akhirnya mulai mengompol lagi. Jika ini terjadi, pengobatan selama 3 bulan dapat dicoba.

Obat yang semakin populer untuk mengompol ialah tablet atau semprot hidung desmopressin. Obat ini mengurangi jumlah air kencing, sehingga mengurangi mengompol. Obat ini digunakan selama periode 1 sampai 3 bulan lalu berhenti secepat mungkin. Bisa dipakai sewaktu-waktu, seperti kalau anak pergi berkemah.

Mengatasi Anak Suka BOHONG !!!

Membual konotasinya sama dengan berbohong, hanya sifatnya berlebihan. Berbohong dan membual sama-sama mengungkapkan sesuatu yang tidak nyata. Hanya saya saat membual banyak bumbu yang diberikan sehingga terkesan bombastis. Biasanya, membual dilakukan dengan sadar dan sengaja.

Anak membual karena berbagai hal. Mulai mencontoh atau belajar dari lingkungan terdekatnya. Atau membual untuk menarik perhatian temannya, juga ingin dianggap hebat dalam lingkungan pertemanannya. Agar dianggap hebat, keren, dan sebagainya, sekaligus menutupi kekurangan dirinya karena tidak ada kelebihan menonjol di bidang akademis atau bidang lainnya, membual menjadi salah satu cara paling efektif yang kemudian dipilih anak.

Pingkan CB Rumondor M.Psi, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara, Jakarta, mengatakan membual tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses. Bisa saja dimulainya di awal-awal ketika anak sudah bisa bicara lancar, sudah berkembang pemahamannya, ditambah lagi dengan kemampuannya meniru dan mencontoh. Untuk mengatasi perilaku membual pada anak, berikut tujuh caranya:

1. Jangan memojokkan perilaku anak dengan mengatakan, "Kamu berbohong, ya? Kenapa sih kamu berbohong?" Jika disikapi seperti ini, anak akan berusaha membela dan mempertahankan diri. Ini membuat anak semakin tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya, karena ia takut dimarahi.

2. Tidak memberikan respons positif atau membiarkan apa yang dikatakan atau diceritakan, karena anak akan menganggap wajar perilaku seperti itu. Ia tidak akan tahu mana yang baik dan tidak, bahkan ada kecenderungan anak akan mengulangi kembali perilaku membualnya.

3. Ajak anak bicara baik-baik. Orangtua perlu memberi tahu sikap dan perilaku yang seharusnya. "Kak, Mama dengar kamu cerita nonton konser Justin Bieber pada temanmu. Padahal Mama kan tidak membelikanmu tiket. Kenapa harus bicara seperti itu sama temanmu? Lain kali, kalau bicara harus yang sebenarnya, ya. Jangan diulangi lagi, lo." Jadi, pilihlah kata-kata yang juga tidak bersifat tuduhan langsung atau memojokkan.

4. Cari latar belakang perilaku membual tersebut. Sebetulnya dari obrolan dengan anak, orangtua bisa menggali penyebab anak membual, apakah karena mencontoh, anak merasa rendah diri sehingga ingin dianggap hebat, atau ada sebab lain. Bila karena mencontoh, orangtua perlu melakukan instrospeksi diri. Beri tahukan sikap mana yang benar dan tidak. Bila ia ingin mendapatkan perhatian, beri tahukan cara-cara yang bisa dia lakukan dengan baik untuk mendapatkan perhatian dari lingkungannya. Bila karena rasa rendah dirinya, bantu anak meningkatkan self esteem-nya dengan menggali atau menonjolkan kelebihan yang dimilikinya.

5. Buat kesepakatan bersama, beri anak konsekuensi bila berperilaku membual. Caranya dengan mengambil apa yang sangat disukainya, semisal tidak diberi uang jajan, tidak boleh main games di akhir pekan, dan sebagainya. Jadi anak belajar, dengan berperilaku tak baik ia akan mendapatkan sesuatu yang tak menyenangkan.

6. Beri contoh-contoh pemahaman atas perilaku tersebut. Bisa lewat cerita tentang dampak negatif yang diterima bila seseorang membual. "Kak, kalau kamu sering mengatakan tentang sesuatu secara berlebihan dan tidak sebenarnya, ketika temanmu mengetahuinya, mereka jadi tak percaya lagi. Nanti mereka tak mau main dan berteman lagi, bagaimana? Sedih, kan? Diaharapkan dengan cara ini anak mau mengambil secara perlahan-lahan perilaku membualnya.

7. Bekerja sama dengan guru di sekolah untuk membantu memperbaiki perilaku anak yang suka membual. Ceritakan pada guru tentang perilaku yang diharapkan dari si anak. Guru bisa memperhatikan perilaku si anak dan membantu memperbaiki perilakunya itu di sekolah.

11 Faktor Resiko Kanker Payudara


Kanker payudara adalah kanker wanita paling umum nomor satu dan pembunuh nomor dua di Indonesia (setelah kanker leher rahim). Menurut data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Kementerian Kesehatan pada tahun 2007, kanker payudara menempati urutan pertama jumlah pasien rawat inap kanker di seluruh RS di Indonesia (16,85%), disusul kanker leher rahim (11,78%).
Untuk mengetahuinya, ketahuilah faktor- faktor risiko mengembangkan kanker payudara berikut:

 

1. Umur

Risiko terkena kanker payudara meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar wanita penderita kanker payudara berusia 50 tahun ke atas. Jika Anda mengalami menopause terlambat (setelah umur 55),  risiko Anda lebih besar lagi. Secara umum, risiko mencapai puncaknya pada usia lebih dari 60 tahun.

2. Riwayat kanker payudara

Jika Anda pernah memiliki kanker di salah satu payudara, Anda berisiko lebih tinggi bahwa payudara lainnya juga akan terkena.

3. Riwayat keluarga dengan kanker payudara

Jika ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan Anda memiliki kanker payudara (terutama sebelum usia 40), risiko Anda lebih tinggi. Risiko berlipat dua bila ada lebih dari satu anggota keluarga inti Anda yang terkena kanker payudara. Memiliki kerabat non-inti dengan kanker payudara (misalnya tante, nenek atau sepupu perempuan) juga meningkatkan risiko Anda.

4. Usia saat melahirkan anak pertama

Semakin tua Anda ketika memiliki anak pertama Anda, semakin besar risiko Anda terkena kanker payudara. Risiko juga meningkat jika Anda sudah berusia 30 tahun atau lebih dan belum pernah melahirkan anak.

5. Perubahan payudara

Perubahan payudara sering terjadi pada hampir semua wanita. Sebagian besar perubahan itu bukan kanker. Namun, beberapa perubahan mungkin adalah tanda-tanda kanker. Jika Anda memiliki perubahan jaringan payudara yang dikenal sebagai hiperplasia atipikal (sesuai hasil biopsi), Anda memiliki peningkatan risiko kanker payudara.

6. Usia saat menstruasi pertama

Jika Anda mulai menstruasi di usia dini (sebelum 12 tahun), Anda memiliki peningkatan risiko kanker payudara.

7. Terapi radiasi di dada

Jika Anda harus menjalani terapi radiasi di dada (termasuk payudara Anda) sebelum usia 30 tahun, Anda memiliki kenaikan risiko. Semakin muda Anda ketika menerima pengobatan radiasi, semakin tinggi risiko Anda terkena kanker payudara di kemudian hari.

8. Kepadatan tisu payudara

Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita usia 45 tahun atau lebih yang memiliki minimal 75 persen jaringan padat pada mammogram memiliki peningkatan risiko mengembangkan kanker payudara. Para ilmuwan belum tahu mengapa demikian.

9. Penggunaan hormon estrogen dan progestin

Jika Anda mendapatkan terapi penggantian hormon estrogen saja atau estrogen plus progestin selama lima tahun atau lebih setelah menopause, Anda memiliki peningkatan risiko mengembangkan kanker payudara. Selain risiko kanker payudara, estrogen plus progestin  juga meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, demensia dan pembekuan darah.

10. Obesitas setelah menopause

Jika Anda mengalami obesitas setelah menopause, Anda berisiko 1,5 kali lebih besar untuk mengembangkan kanker payudara dibandingkan dengan wanita berberat badan normal.

11. Aktivitas fisik

Sebuah penelitian terbaru dari Women’s Health Initiative menemukan bahwa aktivitas fisik pada wanita menopause yang berjalan sekitar 30 menit per hari dikaitkan dengan penurunan 20 persen risiko kanker payudara. Namun, pengurangan risiko terbesar di antara wanita yang berberat badan normal. Dampak aktivitas fisik tidak ditemukan di kalangan wanita yang kelebihan berat badan atau obesitas. Namun, aktivitas fisik yang dikombinasi dengan diet dapat menurunkan berat badan sehingga pada akhirnya menurunkan juga risiko kanker payudara dan berbagai penyakit lain.